Dan di sinilah aku sekarang, berbagi kursi dengan seekor kucing aneh yang hobi menyabotase bantal dan selalu kembali ke kursi ini meski telah berkali-kali dipindahkan. Laptop menyala, koneksi internet yang tidak bisa dibilang lambat, headset lengkap di telinga, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memandangi layarnya saja. Semua sempurna, lengkap dengan sepiring cemilan dan buah. Masalahnya cuma satu, kondisi ruangan yang meriah membuatku tak bisa melakukan apa yang harus aku lakukan.
I thought I said it was easy…
Manda Menangis
Ya. Manda, cucu ibu kos, menangis, siang tadi, bersamaan dengan bunyi adzan dari masjid gang sebelah. Tidak keras dan tidak menjerit, tapi cukup memilukan. Konsentrasiku pecah, buku yang kubaca tergeletak telungkup di atas perut, sementara aku diam mendengarkan pecahan tangisannya.
Statusmu; Etalase Otakmu
Judul di atas kuambil dari sebuah status update punya seorang teman, nama dan tanggal updatenya terus terang lupa karena pikiranku keburu lari ke sana ke mari untuk mencerna maksudnya sampai kemudian tergelitik membuat tulisan ini. Apa gitu ya? “Statusmu; Etalase Otakmu”.
Kita Pernah
Selamat Pagi…
Petang masih merangkak, fajar belum pudar, pun embun belum sepenuhnya mengering dari rimbun dedaunan. Pepatah mengatakan, apa yang kita ingat pertama kali saat membuka mata, maka ialah yang akan menjadi penentu jalannya perasaan sepanjang hari nanti. Mungkin segalanya akan berjalan baik jika yang muncul adalah sketsa menyenangkan dan positip. Seperti batrei yang tak habis direcharge seharian penuh, bagaimana jika sebaliknya?
Bersaing Untuk Apa?
Never talk to me anymore, but just a small talk no more than 10 minutes…
She thought that you were a rival, since that time.
What? Doesn’t make a sense, we’re friend before. And what’s a rival?
Aku tak pernah paham, persaingan apa yang dimaksud. Bahwa kami berdua adalah orang-orang yang menyenangi diskusi, yang kerap menghabiskan waktu semalaman bersama untuk sekedar mendebatkan hal-hal tak penting; Continue reading ‘Bersaing Untuk Apa?’
Pagi Ini di Dapur…
Sembari mengambilkan barang-barang yang diperlukan untuk memasak (cuma bagian disuruh-suruh), si anak mendengarkan percakapan kedua orangtuanya yang sudah menikah selama puluhan tahun dan bagaimana pengalaman mereka dalam menghadapi masyarakat di sekitar mereka yang aneh.
Aku Cuma Merasa Sayang
Menurut legenda ‘nature theory’, lingkungan (sahabat, keluarga, dan orang-orang terdekat) individu adalah komponen yang turut membentuk kepribadian individu termasuk caranya dalam berpikir dan bertindak. Bukan begitu Hani? Buatku pribadi mungkin tak seratus persen benar tapi harus diakui bahwa orang-orang disekitarku akan turut mempengaruhi pola pikirku.
Anyway, aku seringkali merasa sayang ketika melihat seseorang yang berpotensi, kemudian dia memutuskan suatu hal yang menurutku kurang pas (menurut dia sih enggak, kan suka-suka dia) sementara keputusannya itu dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya. Iyah bagaimanapun juga lingkungan keluarga, sahabat, significant others akan sangat berpengaruh terhadap keputusan itu, setidaknya wacana yang mereka berikan baik langsung maupun tidak langsung melalui pengalaman or something akan turut membentuk keputusannya. Orang boleh memberikan wacana tapi no intervensi, sebab keputusan adalah milik pribadi. Iya nggak?
Fortz
13 Mei 2011
“Hati-hati di jalan…”
Aku melihat ia menjauh setelah mengucapkan salam, berbaur dengan puluhan penumpang kereta yang lain sementara Artz yang meringkuk dalam tas yang disandangnya di bahu sebelah kiri. Ada semacam perasaan sedih melihat kereta bergerak perlahan membawa Artz menjauh. Hari itu untuk terakhir kalinya aku melihat Artz, setelah beberapa tahun setia menemani hari-hariku.
Back To MCP
Right, finally I got my MCP back!
Sudah lama sekali, hampir dua tahun yang lalu mungkin, saat aktivitas masih padat dulu (tapi main juga ga ketinggalan) aku sempat kehilangan akses masuk MCP dikarenakan sesuatu yang nggak kuketahui. Reset pasword berulang-ulang sudah, tapi pada waktu itu hanya bisa masuk melalui email. Sementara dari phonecell ataupun komputer hasilnya nihil “wrong pasword” or something like that, lupa. Bahkan setelah beberapa kali malah nggak bisa masuk sama sekali. Karena sudah terlanjur desperate akhirnya diikhlaskan saja.
Artz…
And let me tell you they will always pull you down, before you know it they will take your smile and push you around. They will haunt your every dream, they will make you come undone at the seams…
Pukul satu dini hari lebih, saat kutengok jam digital di pojok kanan bawah Art yang masih menyala dan mendendangkan Solid Groundnya Marid Larsen dengan suara lirih dari winampnya. Malam tadi memang sengaja tak kumatikan si Art. Setelah mencabut modem dan menutup semua window, ganti winamp yang kunyalakan. Dengan kebiasaan ‘tidur tak nyenyak’ yang mulai menggejala lagi akhir-akhir ini, aku memutuskan untuk mencari suasana baru dengan menghidupkan musik. Melow dan lembut agar suara tak terlalu berisik, dan tentu saja berbahasa asing agar otakku tak tergoda untuk memikirkan arti di bait-bait syairnya.
Dalam keadaan setengah sadar, memandangi Art yang mungkin sebenarnya juga sedang kelelahan karena hampir tiap hari dipaksa bekerja terlalu keras dengan minimal jatah istirahat, akhirnya aku luluh juga. Kututup winamp, beberapa kali refresh refresh lalu dilanjutkan shut down. Well, aku mungkin mengeksploitasinya terlalu parah. Setelah dipaksa menyala tanpa henti sepanjang pagi-siang, diapun terkadang harus menuruti keinginanku di malam hari. Baru pada pukul 11 malam biasanya kami sama-sama istirahat.


