14
Jun
11

Pagi Ini di Dapur…

Sembari mengambilkan barang-barang yang diperlukan untuk memasak (cuma bagian disuruh-suruh), si anak mendengarkan percakapan kedua orangtuanya yang sudah menikah selama puluhan tahun dan bagaimana pengalaman mereka dalam menghadapi masyarakat di sekitar mereka yang aneh.

Si istri mengaku baru saja dipanggil ‘atasan’ untuk kemudian dinasehati agar tidak melawan arus. “Gimana ya, rasanya kalau nggak sesuai dengan hati tuh nggak enak, masa disuruh diam aja ngikutin yang lain”. Ya memang si istri ini dikenal sebagai seorang yang vokal, yang konon katanya sifatnya ini diwariskan pada anak-anaknya.

“Kalau ada penataran, rasa-rasanya yang perlu ditatar duluan tuh atasannya dulu baru bawahan. Topiknya pendidikan karakter kok malah main sogok belakang, ealah yang ngajarin atasannya pula”, demikian si suami menimpali.

Awalnya si anak tidak terlalu mengerti apa sih yang sebenarnya sedang dibicarakan pasutri ini, setelah hampir satu jam lebih mendengarkan (sambil tetap disuruh ke sana kemari) akhirnya jelas juga. Jadi ternyata saat ini di atas sana tengah terjadi aksi sogok belakang demi memuluskan jalan, sementara mereka yang tidak mengikuti aksi ini dihimbau agar diam, termasuk pasutri ini. Kegiatan yang sedianya dirancang untuk meningkatkan kualitas para ‘pendidik’ ini nyatanya justru terang-terangan amat sangat tidak mendidik. 

Ujung-ujungnya percakapan ini justru membuat si anak semakin apatis dengan keadaan masyrakat secara keseluruhan. Lah dimana saja sekarang nggak ada yang bener. Yang bener dihujat, yang ga bener disanjung-sanjung. What a ????

Masih hangat kemarin kasus Nyonya Siami yang diusir penduduk kampungnya karena mengadukan kecurangan sekolah anaknya waktu UAN. Sungguh sesuatu yang menurutnya memalukan, memuakkan. Yang salah siapa yang diusir siapa. Yang jujur malah ajur. Dan orang tua yang seharusnya mengajarkan kejujuran kepada anaknya justru berkata, “lebih baik anak saya menyontek daripada tidak lulus”. Lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi pendidikan dasar pada generasi mudanya justru menanamkan believe yang salah kaprah. Ya nggak salah kalau ke depannya mereka akan terbiasa dengan kecurangan karena memang begitulah yang ditanamkan orang tuanya sejak mereka kecil.

Itu hanya secuil potret kebobrokan masyarakat yang kebetulan terekspos. Sementara yang tidak kelihatan dibawah sana masih sangat banyak, mengakar sampai sampai ke believe sehingga saking lekatnya sampai menjadi suatu kewajaran. Iya, curang itu wajar.

“Ah nduk, kamu jangan terlalu naif memandang dunia. Orang yang telalu jujur itu berbahaya untuk dirinya sendiri, digencet atas bawah, dijegal kanan kiri, malah bisa-bisa mati diracun seperti Munir! Sudahlah, untuk hal-hal tertentu mungkin lebih baik diam saja…” Begitu nasihat si istri kepada anaknya di akhir percakapan mereka, sementara si anak hanya mengiyakan nasihat tersebut sebagai tanda sopan santun sambil diam-diam menyelinap pergi membawa satu lagi kekecewaan pada banyak hal dalam kehidupannya…


5 Responses to “Pagi Ini di Dapur…”


  1. June 14, 2011 at 4:59 p06

    setuju banget , mbok. saya heran dengan pemikiran masyarakat soal hal ini. dan rasanya hal-hal yang salah begini menjadi sesuatu yang “wajar” bagi masyarakat sekarang. dan menurut saya, mbok, bener yang mbok bilang atasan dulu yang ditatar. dan sama seperti anak itu, saya sudah apatis dengan masyrakat saat ini.

    • June 14, 2011 at 4:59 p06

      Masalahnya Bid, yang seharusnya menatar itu justru mau-mau aja tuh diamplopi, kan curang juga nih namanya meluluskan orang yang nggak qualified. Dan orang-orang kayak gini nantinya yang akan mendidik anak-anak kita kelak, membiasakan kecurangan.

      Apa solusi anda kisanak?

      • June 14, 2011 at 4:59 p06

        yah gimana ya, mbok. semua berpulang kembali pada individu masing-masing. Contoh pada kasus bu siami, saya yakin sang wali murid sayang murid-muridnya, sehingga dia rela melakukan hal yang melenceng dari pakemnya menjadi seorang guru (meski ada tanggung jawab terhadap sekolah, kalo murid harus 100% lulus. kalo murid lulus semua apa nama SD-nya gak ikut terangkat??) parahnya, kecurangan seperti ini jelas2 terjadi didepan anak-anak yang jelas-jelas ngerti dan sedari kecil didoktrin kalo mencontek itu jelek. lah kalo gurunya sendiri, ngajarin apa gak tambah rusak tuh???

        jadi kembali ke awal, semua berpulang pada sang individu, kalo bagi mereka disogok itu sah-sah saja. yaaa, mendingan gak usah beragama, kalo hal salah mereka lakuin dan dengan 100% sadar ngerti sebab dan akibatnya.

      • June 15, 2011 at 4:59 p06

        Hahay ujung-ujungnya kembali ke individu, kalau udah gini habis diskusi :P
        Entah ya Bid, kata emakku sih emang beban berantai bagi si anak, wali murid, dan juga beban buat sekolah kalau sampai ada siswanya yang ga lulus. Tapi menurut pemikiranku yang naif (dan kemeruh) ini, tetap saja dengan alasan apapun kalau cara yang dilakukan dengan bentuk kecurangan kayak gitu ya nonsens. Mengajar doang tapi ga mendidik.

        Anyway, kita ngomong panjang lebar gini juga ga bakalan ngaruh sama mereka di luar sana, takutnya kalau keras-keras ngomongnya bisa diusir juga nih kaya nasib bu Siami wkwkw *ngungsi duluan sebelum digruduk warga*

      • June 15, 2011 at 4:59 p06

        saya rasa itu nggak naif dan kemeruh, mbok. yah saia yakin pasti mbok dari dulu diajari berbuat baik, berperilaku santun, hormat kepada orang yang lebih tua, rajin, jujur (NAH INI!!), membantu tanpa pamrih, de el el, de es te. pastinya kan itu semua yang diajarin budaya dan agama yang notabene turun temurun dari nenek moyang kita. jadi, kalo ada yang melenceng itu jelas simbok pertanyakan?? dan itu wajar loh mbok kalo merasa nggak sreg, karen itu emang gak bener.

        ah gak bakalan yang liat kalo kita ngobrol ngalor ngidul ha ha ha ha ha ha….kalo diusir yoo tinggal ngailh ha ha ha ha…rugi lek campur ama orang yang keliatannya aja bener, tapi gak taunya gak karu-karuan sifatnya…XD *ngacir sebelum digebuk orang sekampung*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


About This Blog

Myna's Corner, adalah catatan pribadi tentang remah-remah yang berserakan dalam hidup, tentang remeh temeh yang kerap muncul pada lalu lintas hari, tentang ide dan perasaan yang melintas dalam kepala. Dan tentu saja, tentang dunia dalam sudut pandang saya...

Day by Day

June 2011
T F S S M T W
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 5,107 hits
Follow nanabrownies on Twitter

Twitter-nya Nana

  • Be serious, we are not playing 'catch my heart then hiding' 6 hours ago
  • Miss to talk wid you, but seems you r so bussy wid your own business... 1 day ago
  • I want you to stay here with me Mum, now. I need your hug and puk2... 3 days ago
  • @hanhunz salam uda disampaikan lewat angin malam, semoga teman-teman mobi menerimanya... 3 days ago

Circle Me

Most Reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers