Selamat Pagi…
Petang masih merangkak, fajar belum pudar, pun embun belum sepenuhnya mengering dari rimbun dedaunan. Pepatah mengatakan, apa yang kita ingat pertama kali saat membuka mata, maka ialah yang akan menjadi penentu jalannya perasaan sepanjang hari nanti. Mungkin segalanya akan berjalan baik jika yang muncul adalah sketsa menyenangkan dan positip. Seperti batrei yang tak habis direcharge seharian penuh, bagaimana jika sebaliknya?
Tiba-tiba aku teringat pada Zee dan segala prosanya. Kesamaan perasaan tentang apa yang ia tulis kadang membuatku miris. Aku tak ingin mempunyai kisah yang sama dengannya. Aku benci bagaimana ia menguraikan sebuah kata “Kita pernah”. Gambaran semua keindahan yang pernah dilalui lalu kemudian menampakkan wujud terakhirnya berupa ambring. Paradoks. Frase menyedihkan yang diurai dengan cara yang indah melahirkan sebuah keindahan yang menyedihkan.
Frasenya tak hanya muncul pagi ini, tapi sebelumnya dan sebelumnya meski tak setiap hari. Ia mulai membuatku benci pada setiap abu-abu hidup. Betapa dulu kuanut sebuah keyakinan bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dibiarkan berada dalam kenyamanan, dan segala kemungkinan adalah mutlak. Jadi kenapa sekarang aku benci mendengar perumpamaan negatif atau sebuah kemungkinan yang paling menyedihkan yang bisa saja terjadi pada akhir kisah?
Udara mengambang dan aku berjalan pada cerita yang mengambang. Kita memulai kisahnya dengan ketidaktahuan, menjalaninya dengan mereka-reka, lalu mau diakhiri dengan cara bagaimana?
Sebenarnya aku ingin menemaninya berbagi cerita tentang banyak jiwa yang tersesat. Tapi aku tak ingin menambahkan cerita dari sudut pandang dua orang yang sama-sama gagal menemukan apa yang mereka tuju. Sungguh aku tak ingin menyusulnya menjadi enggrang kedua yang hanya mampu memandangi birunya lautan dari pesisir lalu diam-diam kembali ke rimbunnya bakau setelah menuliskan frase “kita pernah”.
Hidup masih abu-abu. Ia sudah pernah mengalami apa yang aku alami. Ia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya sebuah frase kita pernah. Tapi, aku ingin sebuah cerita yang lain, bahwa kita pernah namun dengan ending yang berbeda…



0 Responses to “Kita Pernah”