Judul di atas kuambil dari sebuah status update punya seorang teman, nama dan tanggal updatenya terus terang lupa karena pikiranku keburu lari ke sana ke mari untuk mencerna maksudnya sampai kemudian tergelitik membuat tulisan ini. Apa gitu ya? “Statusmu; Etalase Otakmu”.
…
Jejaring sosial macam twitter, facebook, koprol, friendster, plurk dan banyak lainnya, hampir semuanya memberikan fitur ‘update status’ yang dengan gampang bisa diakses oleh siapa saja. Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berpendapat bahwa update status boleh di isi apa saja sesuai keinginan kita. Yah seperti juga yang seringkali kudengar dan baca, “Suka-suka gue dong mau nulis apa aja, akun-akun gue, kalau ga suka ga usah sewot, ga usah dibaca”. Menurutku kalimat tersebut benar, benar sekali selama update statusnya nggak melanggar TOS.
Tapi ada juga orang yang mengatakan, “Update status ya update statuslah, tapi sadarilah mana status yang layak dikonsumsi public, mana yang enggak”. Yang berpendapat seperti ini juga ga salah, tapi aku juga nggak bisa membenarkan soalnya aku kan penganut ‘suka-suka gue’ seperti yang sudah dituliskan di atas ;p
Pertanyaannya kemudian; apakah aku benar-benar merasa tidak pernah terganggu, tidak pernah sekalipun merasa ‘tak nyaman’ dengan macam-macam status yang ditulis oleh orang-orang itu? Ohh ya enggak…
Sejujurnya aku paling malas kalau lihat status yang seperti ini:
- “Anj**g, kenapa neh tiba-tiba hujan Nj**g, bener-bener Anj**g dah!”
- “As*******, gobl***k, ta*** semua orang kaya ta**”
- “Ya AmPooOen, paC4r gWe beGgoo BgT seHh, Di sUruH jeMpo3t maLLaH nGarRet!!!”
- “Belagu amat sih jadi orang, emangnya loe sapa? Loe tuh bukan sapa-sapa. Dasar belagu loe. Anjr*T!”
- “Goob**k, agama primordial diikutin, orang-orang (menyebut agama tertentu) tol**l!”
Status yang bernada kasar, jorok, umpatan, dan sebangsanya membuatku merasa tak nyaman (oh.. apalagi dipost oleh seorang perempuan). Membaca tulisan campuran besar kecil anak-anak layangan rasanya lebih menyenangkan dan lucu ketimbang membaca tulisan caci maki. Dan percayalah ketika membaca status seperti itu secara tidak sadar akan menimbulkan aura negatif bagi orang lain. Dulu waktu masih ababil :d, kalau ada orang update seperti itu biasanya aku komen “bahasanya yang bagusan dikit napa, ga enak diliatnya, kaya orang yang ga pernah diajarin sopan santun” or something something like that lah yang malah berakhir dengan berantem versus si pembuat status. Tapi sekarang setelah dipikir-pikir lagi rasanya nggak ada gunanya komen atau ngomong seperti itu karena bagaimanapun juga ya terserah yang punya status.
Membaca status-status yang tidak menyenangkan tersebut bisa jadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Kita memang tidak ingin membaca tapi kalau tiba-tiba muncul di newsfeed bagaimana? Sementara semua status update di facebook, twitter, fs mutlak semuanya bisa dibaca oleh orang lain yang berada dalam friend list kita tanpa terkecuali selama status tersebut tidak diprivate atau tidak ditujukan untuk kelompok tertentu (dengan sistem circle ala G+ yang sekarang juga diterapkan oleh Facebook).
Terus gimana kalau ada status yang kasar-kasar seperti itu? Sekarang, setiap menemukan status seperti itu pasti akan kutelusuri asal muasalnya dengan meng-klik wall orangnya. Kalau memang tipikalnya dia suka ngomong kasar dan jorok dan status update-an yang bernada negatif menurutku, adalah kewenanganku untuk meng-unfriend beliaunya. Buat apa sih memelihara teman yang seperti itu, belum ada gunanya buatku. Unfriend adalah alternatif paling bagus bagi kami berdua. Kembali pada term ‘”Suka-suka gue dong mau nulis apa aja, akun-akun gue, kalau ga suka ga usah sewot, ga usah dibaca”, dengan meng-unfriend aku nggak akan ribut mempermasalahkan statusnya dia lagi karena aku ga akan pernah lagi membaca statusnya dan diapun juga bisa tetap bisa ber-update status seperti yang dia inginkan tanpa ada intervensi dariku. Nggak suka remove saja, selesai habis perkara.
Dari bermacam-macam update-an status yang bermunculan di news feed terlihat juga kebiasaan, pikiran, dan sifat sesorang berdasarkan pemakaian kalimatnya. Apa yang ada di pikiran kalian kalau melihat status caci maki dan kata-kata jorok? Apa yang ada di pikiran kalian melihat status-status provokasi dan penghinaan pada ras, etnis, atau agama tertentu? Begitulah, seperti kata sebuah pepatah jawa “Ajining diri soko lati, ajining rogo soko busono”. Harga diri seseorang juga tercermin dari apa yang ia katakan. Bagaimana mungkin orang akan berpikiran positip padanya sementara dari mulutnya – tulisannya keluar kata-kata kasar. Bagaimana mungkin orang mau menghargainya sementara ia bahkan tak menghargai dirinya sendiri.
Sekali, dua kali, mungkin kita pernah menuliskan status bernada marah atau kasar saat emosi tak dapat dikontrol. Tapi jika dilakukan berkali-kali, itu bukan lagi kebetulan (pas marah) namanya, tapi memang kebiasaannya seperti itu. Overt behavior atau perilaku yang seringkali ditampakkan, termasuk kata-kata, sebenarnya adalah manifestasi dari bawah sadar. Jadi jangan salahkan kalau seseorang menilai bahwa si x si y itu kasar dst karena memang begitulah yang dinampakkan (dalam hal ini tulisan, kususnya status update). Kalau si x si y bolak-balik bicara kasar bisa jadi memang otaknya dipenuhi dengan bahasa kasar. Kalau si x si y hampir setiap statusnya bernada mesum, mungkin sebagian besar otaknya memang isinya mesum.
Banyak pasti yang bilang “Don’t judge a book by its cover, jangan melihat orang dari penampilan luarnya”. Jangan hanya menilai sesorang dari statusnya, kalimatnya, apalagi ga kenal orangnya secara dekat? As we know, kata-kata juga merupakan bagian dari kepribadian kita. Bagaimanapun juga manusia selalu akan memberikan penilaian awal kepada orang lain berdasarkan apa yang ia lihat dan dengar.
Sesungguhnya benar kata teman tersebut, statusmu; etalase otakmu. Saat kita sedang menuliskan status kita, sebenarnya kita sedang memamerkan isi otak kita.



0 Responses to “Statusmu; Etalase Otakmu”