Ya. Manda, cucu ibu kos, menangis, siang tadi, bersamaan dengan bunyi adzan dari masjid gang sebelah. Tidak keras dan tidak menjerit, tapi cukup memilukan. Konsentrasiku pecah, buku yang kubaca tergeletak telungkup di atas perut, sementara aku diam mendengarkan pecahan tangisannya.
“Mau jadi apa kamu? Bermain gak lapor dulu, sampe sejam heh? Anak perempuan gak usah main jauh-jauh, disini saja….”, dan sederet bentakan keras dari ayahnya yang membuat hatiku ikut tersentak. Aku bukan Manda, bukan ibunya, bukan saudaranya, tapi ikut merasa sakit dengan bentakan-bentakan itu, dan aku tidak betah. Tangisan Manda semakin memilukan.
Kesimpulan sederhanaku dari bentakan ayahnya, manda bermain setelah pulang sekolah. Tidak diketahui bermain kemana dengan siapa dan dilakukan tanpa lapor ayah dan ibunya selama kurang lebih satu jam. Dan itu membuat sang ayah marah hebat. Manda memang salah. Tapi aku merasa kasihan, tak layak gadis cilik itu dibentak sedemikian keras, yang bahkan aku jauh lebih tua darinya ikut merasa sakit mendengar bentakan itu. Kalaulah marah, kenapa tak lakukan dengan bijaksana, nasehatilah dia baik-baik. Bukan membentak sampai seluruh penghuni rumah bahkan tetangga mendengar.
Tiba-tiba aku merasa kasihan dengan Manda. Usianya memang usia nakal. Siapakah anak kecil di dunia ini yang tak pernah melakukan kenakalan sama sekali? Padahal nakalnya bukanlah nakal yang perlu dikhawatirkan seperti mencuri atau berkelahi. Sepengamatanku Manda suka bersepeda. Barangkali ia hanya berkeliling dan bertemu temannya dan entah bermain apa, lalu pulang tepat sebelum adzan duhur berbunyi.
Manda hanya satu dari sekian banyak anak kota yang tak punya tempat bermain selain rumah, sekolah dan gang. Apa yang bisa dimainkan anak-anak di gang? Keliling naik sepeda, main kejar-kejaran, petak umpet disela-sela rumah, menjahili adiknya yang sebenarnya jauh lebih nakal. Seringkali pula kulihat ia hanya diam menonton tayangan infotainment yang diputar neneknya (ibu kos). Setelah itu dia akan dipaksa tidur siang, sampai sore menjelang, mandi lalu berangkat les lagi. Begitu terus setiap hari. Siklus yang amat tidak menarik, menurutku, seseorang yang dilahirkan jauh dari hiruk pikuk kota, yang mengemban kebebasan jauh dari anak-anak ini.
Selama beberapa tahun di sini, sering aku mendengarkan orang marah-marah. Ayah kepada anaknya, ibu kepada anaknya dan yang lebih parah suami kepada istrinya. Pertengkaran rumah tangga yang seharusnya tak boleh sampai di telinga orang lain. Apa boleh buat, rumah berdempet-dempet. Dinding saja tak sanggup meredam suara-suara kemarahan itu.
Tak hanya tangisan manda. Anak tetangga belakang rumah, termasuk paling sering kudengar tangisannya secara tak sengaja. Keras dan melengking tinggi lalu tiba-tiba hilang sama sekali entah bagaimana caranya. Matilah hati mereka yang mendengar jika sama sekali tak merasa iba. Pagi, siang, sore. Entah apa yang dilakukan anak malang itu sampai teriakan orang tuanya bergaung sebegitu keras. Kadang ditambahi suara pukulan benda keras, mungkin meja, kursi atau entah apa dipukul demi menakut-nakuti.
Seandainya mereka tahu, seorang anak akan merekam setiap kata dan tindakan orang tua mereka ke dalam memori. Bertahun-tahun, terfiksasi dan bisa jadi akan mewariskan hal yang sama pada anak-anaknya nanti. Karena begitulah yang mereka dapatkan dari role model mereka dahulu, kemarahan dan bentakan. Kekerasan orang tua yang secara tak sadar diwariskan kepada mereka. Kenapa tak beri pemahaman pada anak-anak itu sesuai dengan usia mereka, wahai Bunda dan Ayah? Bukan bentakan keras, bukan pukulan dan cubitan. Mereka akan belajar baik jika diajari baik, mereka akan belajar memahami dan menghormati jika kita juga menghargai. Bukankah seorang anak adalah cermin kedua orangtuanya?



yah, mbok gak ada beda ama tetangga kos saya. saya liat aja miris. pas lagi enak2 makan di depan kos, seorang anak perempuan (umur 8-11 tahun, gak ingat ane) dimarahi ama bapaknya gara2nya yaaa itu sama…naik sepeda terus maen ke jalan depan kos. begitu anaknya datang, tuh bapak langsung nyepak sepeda depannya, sampai si anak jatuh terjerembab. gak tega ngeliatnya, mbok. kalo saya melihat alasan si bapak, saya mungkin mengerti. anak perempuan gak boleh maen jauh-jauh, orang tua mana sih yang gak kuatir kalo dia gak tau keberadaan si buah hati?? apalagi kalo umur segitu maen di jalan?? apa gak parno tuh pikiran si ortu?? takut diapa-apain orang, ketabrak, da berbagai alasan lain yang mengkhawatirkan keselamatan sang anak. tapi apa seperti itu hukuman bagi seorang anak?? menendang ban sepeda depan sampai sang anak terjatuh?? yang ada dipikiran saya, sang anak tumbuh dengan rasa takut (atau mungkin benci terhadap ayahnya) bila dia diperlakukan seperti itu. saya yakin bila dia sering diperlakukan seperti itu yang ada hanyalah sifat kebencian kepada orang tuanya. bukan rasa sayang karena dia tidak pernah mengerti kalo sang ayah khawatir terhadap keselamatan sang anak.
Uda tau gitu besok kalo punya anak jangan digebukin Bid ~.~
dikau juga la, mbok…XD