Dan di sinilah aku sekarang, berbagi kursi dengan seekor kucing aneh yang hobi menyabotase bantal dan selalu kembali ke kursi ini meski telah berkali-kali dipindahkan. Laptop menyala, koneksi internet yang tidak bisa dibilang lambat, headset lengkap di telinga, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memandangi layarnya saja. Semua sempurna, lengkap dengan sepiring cemilan dan buah. Masalahnya cuma satu, kondisi ruangan yang meriah membuatku tak bisa melakukan apa yang harus aku lakukan.
Suara rekaman wawancara yang harusnya segera kuubah menjadi verbatim amat sangat tak bisa didengarkan di tengah-tengah gempuran suara-suara probing ilegal lainnya. Aku terjebak di tempat di mana suara televisi memuntahkan bising tak henti-henti, dan tamu yang hampir selalu berganti tak pernah sepi. Tawa mereka, obrolan mereka semuanya bercampur baur menjadi satu. Inilah rumah yang empunya sendiri bahkan mengakuinya sebagai base camp di mana semua orang bebas datang dan pergi. They all friends…
Pagi-pagi sekali suara dentang palu pak tukang mendominasi. Menjelang siang orang-orang bermunculan satu persatu untuk kemudian bersama-sama melakukan ritual latihan angklung. Tempat ini tak punya peredam suara, jadi bayangkan saja barang-barang musikal semacam gamelan, gendang, angklung, gong semua berbaur menjadi satu bergema ke seluruh ruangan dan menyusup ke ruangan lainnya. Bagus, tentu saja bagus, karena ia bernada. Hanya saja tidak tepat timingnya untukku. Sepulang merekapun masih akan ada lagi yang datang dan tinggal di sini untuk melakukan urusan entah apa.
Praktis satu-satunya saat aman untuk mendengarkan rekaman itu adalah malam hari ketika mereka mulai lelah untuk bersuara. Saat itu aku merdeka meski harus mengorbankan waktu istirahat. Lol, aku sedang mensugesti diri sendiri bahwa ini bukanlah hal yang aneh, toh dulu-dulu juga begini nyaris tak tidur semalaman.
Masih dengan suara gaduh yang berseliweran meski telah kukutup telinga dengan headset lengkap dan seekor kucing aneh yang sekarang sedang berbagi kursi dan bantal denganku, masih juga dengan sugesti pada diri sendiri bahwa ini bukanlah apa-apa dan semuanya pasti akan selesai tepat pada waktunya meski perlahan tapi pasti mood mulai menurun, tangan-tangan ini bertahan untuk mengetikkan apa yang sedang kamu baca sekarang, sekedar untuk menghilangkan jenuh dan menunggu ruangan kembali sunyi….



0 Responses to “I thought I said it was easy…”