26
Dec
11

I thought I said it was easy…

Dan di sinilah aku sekarang, berbagi kursi dengan seekor kucing aneh yang hobi menyabotase bantal dan selalu kembali ke kursi ini meski telah berkali-kali dipindahkan. Laptop menyala, koneksi internet yang tidak bisa dibilang lambat, headset lengkap di telinga, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memandangi layarnya saja. Semua sempurna, lengkap dengan sepiring cemilan dan buah. Masalahnya cuma satu, kondisi ruangan yang meriah membuatku tak bisa melakukan apa yang harus aku lakukan.

Suara rekaman wawancara yang harusnya segera kuubah menjadi verbatim amat sangat tak bisa didengarkan di tengah-tengah gempuran suara-suara probing ilegal lainnya. Aku terjebak di tempat di mana suara televisi memuntahkan bising tak henti-henti, dan tamu yang hampir selalu berganti tak pernah sepi. Tawa mereka, obrolan mereka semuanya bercampur baur menjadi satu. Inilah rumah yang empunya sendiri bahkan mengakuinya sebagai base camp di mana semua orang bebas datang dan pergi. They all friends…

Pagi-pagi sekali suara dentang palu pak tukang mendominasi. Menjelang siang  orang-orang bermunculan satu persatu untuk kemudian bersama-sama melakukan ritual latihan angklung. Tempat ini tak punya peredam suara, jadi bayangkan saja barang-barang musikal semacam gamelan, gendang, angklung, gong semua berbaur menjadi satu bergema ke seluruh ruangan dan menyusup  ke ruangan lainnya. Bagus, tentu saja bagus, karena ia bernada. Hanya saja tidak tepat timingnya untukku. Sepulang merekapun masih akan ada lagi yang datang dan tinggal di sini untuk melakukan urusan entah apa.

Praktis satu-satunya saat aman untuk mendengarkan rekaman itu adalah malam hari ketika mereka mulai lelah untuk bersuara. Saat itu aku merdeka meski harus mengorbankan waktu istirahat. Lol, aku sedang mensugesti diri sendiri bahwa ini bukanlah hal yang aneh, toh dulu-dulu juga begini nyaris tak tidur semalaman.

Masih dengan suara gaduh yang berseliweran meski telah kukutup telinga dengan headset lengkap dan seekor kucing aneh yang sekarang sedang berbagi kursi dan bantal denganku, masih juga dengan sugesti pada diri sendiri bahwa ini bukanlah apa-apa dan semuanya pasti akan selesai tepat pada waktunya meski perlahan tapi pasti mood mulai menurun, tangan-tangan ini bertahan untuk mengetikkan apa yang sedang kamu baca sekarang, sekedar untuk menghilangkan jenuh dan menunggu ruangan kembali sunyi….

Advertisement

0 Responses to “I thought I said it was easy…”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


About This Blog

Myna's Corner, adalah catatan pribadi tentang remah-remah yang berserakan dalam hidup, tentang remeh temeh yang kerap muncul pada lalu lintas hari, tentang ide dan perasaan yang melintas dalam kepala. Dan tentu saja, tentang dunia dalam sudut pandang saya...

Day by Day

December 2011
T F S S M T W
« Oct   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 5,107 hits
Follow nanabrownies on Twitter

Twitter-nya Nana

  • Be serious, we are not playing 'catch my heart then hiding' 5 hours ago
  • Miss to talk wid you, but seems you r so bussy wid your own business... 1 day ago
  • I want you to stay here with me Mum, now. I need your hug and puk2... 3 days ago
  • @hanhunz salam uda disampaikan lewat angin malam, semoga teman-teman mobi menerimanya... 3 days ago

Circle Me

Most Reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers